Selasa, 08 Maret 2011

Perkembangan Moral Anak

I. PERKEMBANGAN MORAL


1. Pengertian
Moral adalah ajaran tentang baik dan buruk perbuatan, kelakuan, aklhak, kewajiban dan sebagainya. Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan salah. Dengan demikian moral merupakan kendali tingkah laku.

2. Arti Perilaku Moral
Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan dengan kode moral kelompok sosial. Moral berasal dari kata latin ”mores” yang berarti : tata cara, kebiasaan, dan adat.  Perilaku moral dikendalikan oleh konsep-konsep moral (peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi bagi anggota suatu budaya, dan yang menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.

Perilaku tak Bermoral: adalah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial. Perilaku demikian disebabkan karena ketidak setujuan dengan standar sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri

Perilaku Amoral atau nonmoral : perilaku yang disebabkan karena ketidak acuhan terhadap harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok.

Perilaku yang dapat disebut ”moralitas sesungguhnya”tidak saja sesuai dengan standar sosial tetapi juga dilaksanakan secara sukarela. Perilaku ini muncul bersamaan dengan peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri  atas tingkah laku yang diatur dari dalam yang disertai tanggung jawan pribadi untuk tindakan masing-masing. Perilaku ini mencakup pemberian pertimbangan primer pada kesejahteraan kelompok dan penempatan keuntungan/keinginan pribadi  pada tempat kedua.

Perkembangan moral mempunyai aspek kecerdasan dan aspek impulsif.Anak harus belajar apa saja yang benar dan yang salah. Lebih penting lagi anak harus mengembangkan keinginan untuk melakukan hal yang benar, bertindak untuk kebaikan bersama dan menghindari yang salah. Ini dapat dicapai dengan mengkaitkan REAKSI menyenangkan dengan hal yang benar dan reaksi yang tidak menyenangkan dengan hal yang salah. Untuk menjamin kemauan anak untuk bertindak sesuai dengan cara yang diinginkan masyarakat anak harus menerima persetujuan kelompok.

3. Bagaimana Moralitas dipelajari
Setiap anak harus diajarkan standar kelompok tentang yang benar dan yang salah. Belajar berperilaku dengan cara yang disetujui masyarakat merupakan proses yang panjang dan lama dan terus berlanjut hingga remaja. Berperilaku moral merupakan salah satu tugas perkembangan yang sangat penting dimasa kanak-kanak. Sebelum anak masuk sekolah (SD) mereka diharapkan mampu membedakan yang benar dan yang salah dalam situasi yang sedrhana dan meletakan perkembangan hati nurani.
Belajar menjadi orang bermoral?:
a.  mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum, kebiasaan dan peraturan.
b.    mengembangkan hati nurani
c.   belajar mengalami perasaan bersalah dan malubila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok
d. mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok

Hukum ---> hukuman/sangsi
Kebiasaan ---> ketidaksetujuan sosial
Peraturan ----> peringatan

Hati nurani = cahaya dari dalam = super ego = polisi internal = standar internal yang mengendalikan perilaku individu.

Pokok ketiga dalam belajar menjadi orang bermoral adalah pengembangan perasaan bersalah dan malu. Setelah anak mengembangkan hati nurani, hati nurani mereka bawa dan gunakan sebagai pedoman perilaku. Bila perilaku anak tidak sesuai dengan hati nurani anak merasa bersalah, malu atau kedua-duanya. Perasaan bersalah = evaluasi diri khusus yang negatif yang terjadi bila seorang individu mengakui bahwa perilakunya berbeda dengan nilai moral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi. Anak yang merasa bersalah tentang apa yang telah dilakukannya, telah mengakui pada dirinya bahwa perilakunya jatuh di bawah standar yang ditetapkannya sendiri. Ada 4 kondisi yang harus terpenuhi sebelum rasa bersalah di alami anak:
1.        anak-anak harus menerima standar tertentu mengenai hal yang benar dan salah atau baik dan buruk
2.        mereka harus menerima kewajiban mengatur perilaku mereka agar sesuai dengan standar yang telah mereka terima.
3.        mereka harus merasa bertanggung jawab atas setiap penyelewengan dari standar tersebut dan mengaku bahwa mereka, dan bukan orang lain yang harus disalahkan.
4.        mereka harus memiliki kemampuan mengkritik diri yang cukup besar untuk menyadari bahwa suatu ketidak sesuaian antara perilaku mereka dan standar internal perilaku telah terjadi
RASA MALU adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan yang timbul pada seseorang akibat adanya penilaian negatif terhadap dirinya. Penilaian negatif (yang belum tentu ada) dapat membuat anak merasa rendah diri.. Moralitas dalam arti kata sebenarnya selalu mencakup rasa bersalah. Orang harus selalu berbuat sesuai dengan adat istiadat, dibimbing oleh stantar yang lebih dikendalikan dari dalam ketimbang dari luar. Bila anak tidak merasa bersalah, ia tidak akan merasa terdorong untuk belajar apa yang diharapkan kelompok sosialnya/ menyesuaikan perilakunya dengan harapan tersebut.

Interaksi sosial memegang peran penting dalam perkembangan moral:
1.        dengan memberi anak standar perilaku yang disetujui kelompok sosialnya
2.        dengan memberi mereka sumber motivasi untuk mengikuti standar tersebut melalui persetujuan dan ketidaksetujuan sosial. Tanpa interaksi dengan orang lain anak tidak akan mengetahui perilaku yang disetujui dan tidak disetujui. Mereka memiliki motivasi untuk tidak berbuat sesuka hati.
Interaksi awal terjadi di dalam keluarga. Anak belajar dari orangtua, saudara dan anggota keluarga, mereka belajar apa yang dianggap salah dan benar. Dari penolakan sosial/hukuman bagi perilaku yang salah dan penerimaan sosial/penghargaan bagi perilaku yang benar, anak memperoleh motivasi yang diperlukan untuk mengikuti standar perilaku yang ditetapkan anggota kelompok. Kemudian anak akan mulai belajar dengan teman, guru dan menemukan beberapa standar sama dan yang lain berbeda. Pada waktu anak sekolah tingkah laku mereka dikendalikan oleh aturan-aturan sekolah.
Melalui interaksi sosial anak tidak saja mempunyai kesempatan untuk belajar kode moral tetapi juga belajar bagaimana orang lain mengevaluasi perilaku mereka, jika evaluasi menguntungkan ini akan memberi motivasi kuat untuk menyesuaikan dengan standar moral, jika merugikan anak akan mengubah stantar moralnya. Jika Anak-anak diterima baik oleh temannya untuk interaksi sosialnya meningkat, sebaliknya bila kurang diterima sering dianggap kurang matang secara moral.

Para ahli mengatakan bahwa moralitas meliputi PIKIRAN, PERASAAN dan TINDAKAN. Perasaan tentang empati dan altruisme, serta tindakan untuk membagi dan mengasihani, adalah berpasangan dan dibatasi oleh perkembangan kognitif.Moralitas kita terdiri bagaimana kita merasakan, bertindak dan berpikir tentang baik dan buruk.

4. Pola Perkembangan Moral
Perkembangan moral tergantung dari perkembangan KECERDASAN. Dengan berubahnya kemampuan anak untuk menangkap dan mengerti, anak-anak bergerak ke tingkat perkembangan moral yang lebih tinggi. Pada waktu perkembangan kecerdasan mencapai kematangan, perkembangan moralpun mencapai kematangan. Bila hal ini tidak terjadi maka individu dianggap belum matang secara moral.

Tahapan perkembangan Moral : Piaget
a. Tahap Pertama: REALISME MORAL.
b. Tahap kedua:     MORALITAS OTONOMI

Tahap Perkembangan Moral : Kohlberg
a. Tingkat I: Moralitas Prakonvensional
b. Tingkat II : Moralitas Konvensional
c. Tingkat III : Moralitas Pasca Konvensional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar